Artikel : IAIN, MENTAJDID MUJADDID

Penulis : Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag

(Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan)

Opini Harian Padang Eskpres, Sabtu, 12 Maret 2016, di bawah judul Ironi IAIN Tigo Sapilin, yang ditulis Zelfeni Wimra, adalah keterlibatan dari dosen muda IAIN Imam Bonjol berkontribusi memecahkan masalah-masalah yang melilit lembaga pendidikan tinggi Islam di Sumatera Barat. Kritik, saran dan gerakan generasi muda cerdas IAIN Imam Bonjol seperti yang ditunjukkan Zelfeni Wimra, akrab dipanggil Wimo, dan kawan-kawannya, sebutlah Abdullah Khusairi, Taufik dan kawan seangkatannya adalah energi baru yang diharapkan dapat didayagunakan pimpinan institut dan fakultas untuk mengairahkan dan mempercepat gerak lajunya kampus.

Meresponi artikel di atas penulis sebagai generasi tuo alun, mudo talampau di lingkungan dosen IAIN Imam Bonjol merasakan dan melihat potensi dan energi yang tersimpan pada civitas akademika masih cukup dan memadai untuk menjadi pionir perubahan dan percepatan. Perubahan IAIN menuju UIN dengan segala ikutannya adalah agenda besar yang sulit diwujudkan bila tidak memaksimalkan semua modal dan peluang yang ada. Kini, realitas sudah hadirnya IAIN Bukittingi dan IAIN Batusangkar, menurut penulis tidak untuk didiskusikan lagi, tetapi haruslah didorong untuk kemaslahatan umat dan masyarakat Sumatera Barat.

Berkenaan dengan keunggulan dan distingsi antara tiga lembaga Perguruan Tinggi Islam plat merah ini adalah tugas utama dari pimpinan ketiga lembaga yang sedang memikul amanah untuk duduk bersama merumuskannya. Kerendahatian pucuk pimpinan ketiga lembaga untuk duduk bersanding, tanpa harus risih bertanding menuju keunggulan,  dalam agenda bersama adalah cara tepat dan bijak  untuk bisa lebih besar memberikan konstribusi bagi bangsa.

Perguruan Tinggi Islam Negeri, STAIN, IAIN dan UIN adalah lembaga negara yang memikul tugas mencerdaskan kehidupan bangsa. Visi, misi, strategi, sistim, mekanisme, dan aturan yang memandu pelaksanaannya sudah digariskan melalui birokrasi pendidikan di lingkungan Kementrian Agama. Tugas pimpinan masing-masing institusi adalah memastikan arah yang hendak dituju oleh semua komponen yang mengerakkan lembaga. Pimpinan adalah mereka yang paham bentul nada, gerak, irama dan bunyi instrumen yang bergema dalam orkestra birokrasi dan pencapaian misi.

MENTAJDID MUJADDID.

Memasuki usia emas, 50 tahun, IAIN Imam Bonjol sebagai lokomotif pembaharuan Islam di ranah Minankabau dipercayai sudah berkonstribusi lumayan banyak. Jumlah alumni yang sudah ribuan orang, menyebar dalam berbagai bidang kehidupan, keterlibatan civitas akademika dalam percepatan pembangunan, khususnya pada pencerahan mental sipritual, menjadikan agama sebagai kekuatan perekat bangsa adalah sumbangan IAIN Imam Bonjol yang harus diakui masyarakat dan pemerintah.

Sejalan dengan kecepatan perubahan sosial, sepantasnya pula penentu kebijakan dan civitas akademika memeta ulang tentang peran, fungsi dan kontribusi IAIN menghadapi tantangan kedepan. Pertanyaan sebagai apakah Islam bagi masyarakat hari ini ketika angka kemiskinan, kebodohan, pelanggaran susila, pengabaian nilai-nilai moral, pembang kangan norma juga sedang berlansung tanpa kritik, seperti yang dikeluhkan Wimo dalam artikel Ironi IAIN Tigo Sapilin  harus dijawab oleh pimpinan dosen dan civitas akademika IAIN Imam Bonjol.

Kesadaran kolektif mencermati perubahan prilaku masyarakat, tak terkecuali di Sumatera Barat yang masih menyanyikan filosofi keramatAdat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, tentang begitu cepatnya pengerusan nilai, dan perusakkan moral diharapkan dapat menjadi entri pointmenjawab ironi yang diingatkan di atas. Kesediaan orang-orang cerdas yang ada di kampus, lazimnya idealis dan inovatif, untuk berdampingan dengan penyelenggara negara di pemerintah, lazimnya pragmatis dan praktis, tentu akan membawa keuntungan bagi semua pihak.

Kemauan dan tekad kuat mujaddid(pembaharu, dalam pengertian terbatas Pimpinan, Dosen, dan Mahasiswa IAIN) menegok keluar, berdiskusi memberikan konstribusi pikiran dalam menyelesaikan sengkerut sosial dengan penentu kebijakan di Propinsi,  Kabupaten Kota adalah kerja inovatif yang akan menguntungkan semua pihak. Mereformasi alam pikiran (mindset) cendikiawan di kampus pembaharu Islam IAIN Imam Bonjol untuk ikut bertungkus lumusmenjadikan Islam sebagai faktor penting dalam meluruskan perubahan ke arah yang lebih baik dan produktif harus segera dilakukan pimpinan, dosen, pengawai dan semua pihak.

Tumpukkan masalah sosial keagamaan yang bersinggung langsung dengan ketahanan bangsa dan negara terus bertambah. Dari sisi budaya, seni, filem, sinetron, dan pertunjukkan kesenian populer orgen tunggal separoh telanjang yang melecehkan martabat, moral dan kepatutan mestinya ada alternatif yang dapat dihadirkan oleh civitas akademika Fakultas Adab dan Humaniora. Hal yang tak kalah strategisnya adalah inovasi dalam hal komunikasi dan informasi. Distorsi dan kekeruhan informasi, tak terkecuali Dakwah dalam artian ceramah, yang tak terkendali adalah lahan pengabdian untuk diluruskan yang belum tergarap maksimal oleh Fakultas Dakwah dan Komunikasi.

Dalam hal berkaitan dengan hukum Islam dan masalah kekeluargaan yang tengah dihadapkan pada badai materialistik dan sikap permisif, yang ditandai dengan tingginya angka perceraian, lebih sedih lagi angka gugat cerai dari pihak perempuan dua kali lipat dari percerain talak, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), pelecehan terhadap kaum perempuan, kekerasan terhadap anak,  kisruh suami isteri, selingkuh dan sebagainya adalah masalah sosial dan hukum yang secara akademik menjadi focus Fakultas Syariah yang belum maksimal diberikan solusinya.

Berkaitan dengan pendidikan Islam yang ditingkat dasar dan menengah, MIN, MTs dan MA yang sudah mendapat dukungan masyarakat dengan semangkin diminati, tentu harus diberikan pula perhatian pada penguatan akademisnya. Fakultas Tarbiyah dan Keguruan memiliki tanggung jawab moral meningkatkan daya saing Madrasah menghadapi era masyarakat ekonomi Asean (MEA). Karakter yang baik, kualitas akademik kompetitif, ketrampilan praktis memadai dan komunikasi mendunia adalah indikator kesiapan alumni Madrasah memasuki pesaingan global, yang patut diberikan dukungan oleh Fakultas Tarbiyah.

Fakultas Ushuluddin sekarang dan kedepan begitu dinantikan perannya. Pemikiran keagamaan yang dinamis berkelindan dengan galaunya informasi media sosial adalah ancaman bagi kelurusan dan kebenaran Islam. Aliran sesat, pemikiran sesat, gaya hidup sesat dan prilaku sosial sesat, tumbuh begitu pesat. Pemahaman keagamaan wasatiyah (moderat) yang dikembangkan di Perguruan Tinggi Islam harus mampu mengembalikan kesesatan tersebut ke jalan kebenaran. Disharmoni sosial dengan alasan atau tepatnya dituduh dengan dasar keagamaan tidak boleh menghancurkan negeri ini. Peran dan keterlibatan civitas akademika Fakultas Ushuluddin ditunggu untuk menyelamatkan bangsa Indonesia.

Fakultas bungsu, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) secara sistimik mulai menampakkan diri bersama-sama stakeholder mengerakkan  ekonomi Islam di ranah Minang yang dipercayai potensial. Dukungan dan perhatian pimpinan IAIN, dan civitas akademika akan memberikan energi positif bagi pemikul amanah dan semua pihak terkait di lembaga ini. Bersamaan dengan ekonomi Islam dalam artian akademik, FEBI tentu juga menyiapkan diri mengali dan mendorong potensi filantropi umat, wakaf, zakat, infak, dan  aktivitas wisata halal, hotel syariah dan bisnis Islami lainnya, yang akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan umat.

Akademisi dan pakar, Magister, Doktor dan Profesor,  keislaman dan sosial kemasyarakatan yang bermukim di IAIN Imam Bonjol dinanti untuk memberikan solusi terhadap kerentanan sosial dalam hubungannya dengan kebaikan masyarakat. Patologi sosial, LGBT, prostitusi anak, meningkatnya pengidap HIV dan AIDS, narkoba, masalah kependudukan, lingkungan hidup, korupsi dan masalah sosial kemasyarakatan adalah masalah yang memerlukan penanganan akademik sebelum dilakukan tindakan hukum.

Sederatan agenda besar di atas dapat dilakukan perbaikannya oleh mujaddid(pembaharu) civitas akademika IAIN Imam Bonjol ketika pola pikir pola sikap dan pola geraknya  benar-benar sudah mengacu kepada spirit pembaharuan. Spirit pembaharuan adalah mereka yang tidak terjebak dalam fanatisme sempit, ta’ashub kelompok, merasa diri dan kelompoknya paling benar, paling berjasa, dan sikap picik lainnya. Bekerja dalam irama kebersamaan, saling menghargai dan memuliakan, tidak mewariskan panjat batang pinangadalah modal sosial yang harus dibangun terus menerus. Mentajdid mujadid, adalah meluruskan pembaharu, untuk optimis, inovatif dan berkemajuan untuk kebaikan bersama. Selamat bekerja. Fastabiqul khairat, billahi taufiq wal hidayah. Amin. DS.13032016.

 

Ditulis oleh: Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag | Tanggal 22 Mar 2016 23:25 WIB

1 Comments

  • tarmizi tanjung Says:
    June 3, 2016 at 08:40pm

    asslammualaikum pak,pak saya bertanya kok bayar uang spp/ukt saya besar 1200000 padahal orang tua saya susah dan gak bisa lagi kesawah mohon perhatiannya.

(tidak akan ditampilkan)


Anda dapat mempergunakan HTML tags berikut: <a><br><strong><b><em><i><blockquote><pre><code><ul><ol><li><del>


CAPTCHA Image
Reload Image