Artikel : KAMPUS SUNGAI BANGEK

Penulis :

ABDULLAH KHUSAIRI  
Dosen Fakultas Dakwah & Ilmu Komunikasi 

Rektor IAIN Imam Bonjol Padang bersepakat dengan Kerapatan Adat Nagari (KAN) Koto Tangah untuk memuluskan jalan terwujudnya sebuah kampus di Sungai Bangek. Sebuah kampus megah yang akan memberi multi effect terhadap kehidupan, khususnya di Koto Tangah, umumnya di Sumatera Barat.

Itulah yang tergambar dalam berita Singgalang, Jumat (21/11). Sebuah gambaran yang memberikan banyak harapan, baik civitas akademika, maupun warga Koto Tangah. Dan hal ini juga, harus dimaknai juga harapan bagi Sumatera Barat.

Cerita tentang kampus III IAIN Imam Bonjol Padang sudah sejak beberapa tahun silam terdengar, seiring rencana perubahan status IAIN Imam Bonjol Padang menjadi Universitas Islam Nusantara (UIN), yang kini dalam proses. Terlepas setuju atau tidak perubahan status ini, perubahan tetaplah sebuah keniscayaan dalam menanggapi arus zaman. Pengusulan hadirnya kampus baru ini sudah menjadi kebutuhan mendesak mengingat sudah sesaknya pembangunan di Kampus Lubuklintah dan Kampus Sudirman. Sudah tidak sesuainya, jumlah mahasiswa dengan kapasitas kampus dan peruntukannya.  

Bebas Lahan

Proses pembebasan lahan yang hampir selesai, kesepakatan dukungan KAN Koto Tangah, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), Lurah Balai Gadang, Camat Koto Tangah sangat memberi arti bagi lajunya proses pembangunan kampus di perbukitan Sungai Bangek tersebut. Lebih-lebih dukungan Pemprov Sumbar bersedia membuka akses jalan ke lokasi kampus.

Pembebasan lahan memang bukan pekerjaan mudah, mengingat tanah ulayat yang dibeli pemerintah ini memiliki persoalan berbeda-beda dari pemilik dan kaum. Proses yang sempat tersendat karena berbagai persoalan ini satu demi satu sudah dan sedang diselesaikan. Setelah tuntas semuanya, barulah akan dilaksanakan proses pembangunan gedung yang juga akan memakan waktu tidak sebentar pula.

 

Menurut keterangan Rektor IAIN Imam Bonjol Padang, Prof. Dr. H. Makmur Syarif, SH, M.Ag, pihak Kementerian baik Kementerian Agama, Bapenas, harus dapat keterangan dan dukungan valid agar kucuran dana pembangunan bisa lancar. Tak tanggung-tanggung, proposal diajukan tak kurang dari Rp1 Triliun.

Pertanyaannya, akankah kita melihat sebuah kampus baru yang megah beberapa tahun ke depan? Tentu saja, banyak yang berharap bisa terwujud. Namun proses panjang ini tak boleh ada banyak kerikil yang bisa menggagalkan mimpi besar ini. Sebab, bukan batu besar yang biasanya membuat seseorang jatuh tapi kerikil. Sekali lagi kerikil! Batu kecil.

Pembangunan memang membutuhkan pengorbanan besar. Pengalaman pembangunan PLTU di Teluk Sirih Bungus harus menjadi pelajaran penting. Kesalahan kecil bisa membuat pejabat publik yang melaksanakan tugas menjadi tersangka.

"Kami rindu di kampung ini berdiri sebuah kampus megah, sejajar dengan kampus megah di daerah lain. Dampak keberadaannya tentu akan sangat luar biasa kepada anak nagari Koto Tangah," ungkap Ketua KAN Koto Tangah, H. Ahlidir Datuk Mudo. 

Sebuah kampus idealnya memberi dampak positif terhadap daerah sekitarnya. Baik secara ekonomis maupun secara budaya, ilmu pengetahuan, juga hal positif lainnya. Namun demikian, tentu ada dampak negatif yang harus diantisipasi jauh hari sebelum terjadi.

Komunikasi Angin Segar

Pertemuan Civitas Akademika IAIN Imam Bonjol Padang dengan seluruh elemen di Masjid Raya Balai Gadang Koto Tangah, merupakan komunikasi angin segar tidak hanya terhadap Koto Tangah tetapi juga kepada masyarakat Sumatera Barat. Karena sebagai perguruan tinggi tua, IAIN Imam Bonjol Padang didirikan sebagai milik masyarakat Sumbar untuk melahirkan generasi baru yang menguasai bidang ilmu-ilmu agama dengan kombinasi keilmuan dan kajian sosial lainnya.

Karenanya kehadiran kampus baru bagi IAIN bukan saja kebutuhan IAIN tetapi juga kebutuhan Sumatera Barat. Pemerintah Pusat harus memahami ini. Keberadaan IAIN melengkapi keberadaan Unand, UNP, UBH, Unbrah, dan perguruan tinggi lainnya, yang memiliki peran masing-masing serta punya kewajiban untuk diperhatikan dan dikembangkan bersama.

Pertemuan pihak-pihak berkepentingan pembangunan Kampus Sungai Bangek diharapkan dapat menyapu seluruh kerikil. Memuluskan seluruh jalan pembangunan. Komunikasi dengan intensitas tinggi harus dilakukan baik dari IAIN Imam Bonjol Padang maupun dari KAN Koto Tangah. Selama ini, harus diakui, agak minim sehingga muncul gejala protes dari warga Koto Tangah yang merasa terusik karena tidak terkomunikasi dengan baik. Menurut teori, niat baik tanpa dibarengi komunikasi yang baik jarang menghasilkan buah yang baik.

Ketua Pengadaan Tanah Pembangunan Kampus Sungai Bangek, Prof. Dr. H. Salmadanis, M.Ag dalam satu kesempatan menyebutkan, proses panjang pengadaan tanah ini memang membutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang tidak sedikit. Baik waktu maupun tenaga. Tidak sedikit cobaan datang, mulai dari pengaduan dugaan korupsi juga caci maki. Tetapi niat baik ini tak boleh mundur apalagi gagal.

“Karena kita melewati mekanisme keuangan negara, pembelian tanah juga langsung ke rekening pribadi pemilik tanah, maka kita meyakini melewati jalan yang benar untuk mewujudkan mimpi besar sebuah kampus megah membanggakan Sumatera Barat. Kita sadari tidak bisa cepat tuntas, banyak masalah, banyak orang, maka perlu waktu, fokus, serius, hati-hati, tetap di koridor keuangan negara,” tegas profesor kelahiran Tanahdatar ini, optimis.

Semoga saja mimpi ini segera terwujud, sehingga suatu hari nanti, akan ada kosa kata baru, selain “kampus Limau Manih.” Ada lagi “kampus Sungai Bangek”. Mari kita mulai.

. [] sumber. www.hariansinggalang.co.id

 

 

 

Ditulis oleh: ABDULLAH KHUSAIRI Dosen Fakultas Dakwah & Ilmu Komunikasi | Tanggal 22 Mar 2016 23:05 WIB

(tidak akan ditampilkan)


Anda dapat mempergunakan HTML tags berikut: <a><br><strong><b><em><i><blockquote><pre><code><ul><ol><li><del>


CAPTCHA Image
Reload Image