Artikel : JANGAN ROBOHKAN IAIN KAMI

Penulis :
ABDULLAH KHUSAIRI  
Dosen Fakultas Dakwah & Ilmu Komunikasi 

Rektor IAIN Imam Bonjol Padang dibebastugaskan, digantikan oleh Pengganti Sementara (Pgs). Menteri Agama R.I., tentunya sudah mempertimbangkan buruk baik atas keputusan tersebut, setelah melakukan berbagai penelusuran dan klarifikasi atas kekeliruan administrasi kependidikan pada tahun 2011/2012.

Keputusan serupa juga dialami Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung. Artinya, ada dua jabatan rektor di lingkungan Kementerian Agama R.I., dipimpin Pgs. Ibarat tsunami, keputusan tersebut berdampak sedikit banyak pada sistem keuangan, perencanaan dan perjalanan lembaga menuju visi dan misi yang dituju. Galibnya Pgs., memiliki keterbatasan dalam mengambil kebijakan dibandingkan rektor defenitif.

Judul tulisan ini terinspirasi dengan karya sastra A.A. Navis (1924 – 2003) Robohnya Surau Kami. Pasca Gempa 30 September 2009, Tabloid Mahasiswa IAIN Imam Bonjol Padang, Suara Kampus, juga terinspirasi dengan karya ini sebagai headline; Robohnya Kampus Kami. Cerpen A.A. Navis menceritakan sebuah surau yang runtuh karena pengaruh waktu dan pemikiran spiritual yang dipahami masyarakat. Sedangkan reportase Suara Kampus, melaporkan keadaan kampus setelah gempa. Tulisan ini berbeda bahasan namun bisa saja akan terjadi kesamaan secara filosofis dan ideologis.

Kabar dari Dalam

Isu dibebastugaskan Rektor IAIN Imam Bonjol Padang memang sudah berhembus satu bulan terakhir. Seperti diberitakan, beberapa alasan Kemenag R.I., menjatuhkan keputusan. Yaitu, pelaksanaan lokal jauh, keterlambatan akreditasi, dll. Kekeliruan tersebut dianggap fatal. Awalnya, isu ini mengabarkan tidak saja jabatan rektor, tetapi juga para wakil dan direktur, serta pangkat guru besar dari para profesor tersebut.

Semua isu itu terjawab, Kamis (19/3). Serah terima jabatan dari Rektor IAIN Imam Bonjol Padang, Prof. Dr. H. Makmur Syarif, SH., M.Ag., kepada Pgs, Prof. Dr. H. Asasriwarni, MH, di Aula Pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang Kampus Sudirman. Hadir pada kesempatan tersebut, segenap sivitas akademika dan undangan. Terutama para anggota senat. 

Di hadapan civitas akademika itulah, Kepala Biro Administrasi Umum, Akademik dan Keuangan (AUAK), Drs. H. Dasrizal, M.M., membacakan Surat Keputusan (SK) Menteri Agama RI, Nomor B.II/3/PDJ/00991/2015 dan Surat SK yang menetapkan WR III Prof. Dr. H. Asasriwarni, MH sebagai Pengganti Sementara (Pgs) Rektor berdasarkan SK Menag No. B:III/3/019891, terhitung sejak tanggal 9 Maret 2015.

Prof. Dr. H. Makmur Syarif, SH. M.Ag., sebagai rektor yang diberhentikan menyatakan menerima keputusan tersebut, sebagai takdir hidupnya dalam mengemban jabatan. Serta memakna jabatan sebagai amanah dan kehendak Allah SWT. Ia juga memaparkan apa yang sesungguhnya terjadi. Hanya kekeliruan administrasi kependidikan, tidak korupsi dan tidak pula hal amoral. Guru Besar Fakultas Syariah itu juga menyampaikan kemajuan selama kepemimpinannya.

Sementara itu, Prof. Dr. H. Asasriwarni, MH, dalam sambutannya, meminta agar semua pihak membantu perjalanan jabatan yang diembannya dalam waktu lebih kurang empat bulan ke depan. Ia akan meneruskan kemajuan yang telah dicapai pada masa Makmur Syarif. Serta menyatakan, kekeliruan yang terjadi harus menjadi pelajaran dan tak boleh terulang lagi. 

Demi Masa Depan

Setelah menghadiri suasana serah terima dua profesor itu, ada banyak pertanyaan yang masih belum terjawab. Misalnya, apa sesungguhnya yang sedang terjadi di lembaga perguruan tinggi Islam ini? Apakah kekeliruan itu begitu fatal? Bukankah di kementerian lain, kekeliruan semacam itu jamak terjadi? Apakah ada alasan lain yang lebih kuat? Atau memang ada yang sedang ingin merobohkan lembaga ini? Kalau ada, siapa dia?

Pertanyaan ini belum bisa terjawab sepenuhnya. Namun sebagai bagian dari “rumah gadang” ada beberapa hal yang janggal dipandang dari sisi Ilmu Dinamika Komunikasi Kelompok. Terdapat kelemahan dalam komunikasi semua lini membuat lembaga ini mengalami krisis sikap mental yang sangat sistemik. Tidak hanya sering terjadi miskomunikasi tetapi juga kegagalan komunikasi dan kebuntuan komunikasi.

Kondisi ini tidak lepas dari krisis pasca gempa, 30 September 2009. Kampus terseok-seok membenahi diri. Kondisi darurat masih terasa dan memengaruhi semangat untuk bangkit. Ditambah lagi, juga pengaruh dari kondisi pasca bencana, Rektorat sebagai simbol pindah sebanyak dua kali. Sementara gedung Rektorat belum juga selesai dibangun. Beberapa unit layanan juga menempati gedung yang bukan seharusnya. Sarana prasarana bukannya bertambah, namun terus menurun. Byar pet sudah menahun. Ini jelas memengaruhi kondisi psikis.

Sementara itu, fokus pembangunan sudah pula mengarah ke Kampus Sungai Bangek. Persoalan ini tindih menindih, membuat beban persoalan kian berat dan tak terpikul.

Agar kondisi kembali lebih baik, dibutuhkan pemimpin yang memiliki kapasitas terpasang di atas rata-rata. Tidak pemimpin biasa. Ia harus mampu membagi habis semua pekerjaan, mampu mengayomi, mampu memenej hingga selesai satu persatu.

Tugas berat pemimpin defenitif nantinya adalah menyelesaikan kebuntuan komunikasi dalam penyelesaian dinamika sehari-hari agar tidak menggelembung dan pecah. Membangun komunikasi yang menumbuhkan kebersamaan dan semangat berkemajuan. 

Bingkai Besar

Sebagai salah satu lembaga pendidikan tinggi Islam telah berusia lebih dari setengah abad. Sejak berdiri, 29 November 1966, IAIN Imam Bonjol terus berkembang, baik dari sisi pertumbuhan jumlah fakultas maupun perkembangan kualitas keilmuan. Namun kondisi pasca gempa memang memiliki dampak yang luar biasa. Terseok-seok berbenah.

Dalam pada itu, tidak lama lagi, IAIN akan memasuki masa konversi menjadi Universitas Islam Nusantara (UIN),  akan menerapkan sistem Badan Layanan Umum (BLU), akan ada beberapa fakultas baru. Salah satunya, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI). Pembangunan Kampus Sungai Bangek memasuki tahap peletakan batu pertama. Diharapkan wajah baru lembaga perguruan tinggi Islam ini segera tampak. Baik secara fisik maupun mental. Inilah pekerjaan yang mesti dilanjutkan. Membutuhkan tenaga, pikiran, dana, juga kepemimpinan yang cekatan memainkan peran. Jangan pernah melupakan, “Jika sebuah urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran urusan itu.” (Hadits Riwayat Bukhari: 1065).

Bila dilihat dalam bingkai lebih besar, IAIN Imam Bonjol Padang hadir di di tengah masyarakat dengan filosofi Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABSSBK). Sebagai lembaga pedidikan agama, ia menjadi bagian terpenting dalam tali tigo sapilin dan tigo tunggu sajarangan. Lembaga pendidikan pembangunan spiritualitas ummat. Kunci semua itu, tegaknya moral dari keruntuhan secara fisik dan psikis yang dialami saat ini. Bangkit membangun komunikasi yang cerdas ke dalam maupun ke luar. Ke atas ke bawah. Dengan begitulah akan menjawab, tak ada yang mau merobohkan IAIN baik dari dalam, dari luar, dari bawah, dari atas. Semua peristiwa ini harus dipahami sebagai dinamika sebuah lembaga dalam menata masa depan yang lebih baik. Tabik.

[SINGGALANG, Senin 22 Maret 2016]

Ditulis oleh: Oleh ABDULLAH KHUSAIRI | Dosen Fakultas Dakwah & Ilmu Komunikasi | Tanggal 22 Mar 2016 23:02 WIB

1 Comments

  • Abdullah Khusairi Says:
    March 22, 2016 at 08:42am

    Admin yang baik, saya usul. tulisan saya ini berjenis ARTIKEL. Bukan BERITA. jadi, mesti dibuat "Oleh ABDULLAH KHUSAIRI | Dosen Fakultas Dakwah & Ilmu Komunikasi". Begitu juga dengan tulisan berjenis ARTIKEL yang lainnya. Ada banyak tulisan2 dosen IAIN di media lokal, boleh diambil. Jenisnya sama, ARTIKEL. bukan BERITA yang ditulis oleh wartawan. Jangan lupa, sumber reproduksi beritanya, misal "Tulisan ini telah ditayangkan di SINGGALANG, Senin 22 Maret 2016). Ini menyangkut hal cipta, hak intelektual, menghargai penulis, menghargai lembaga pers yang sudah menayangkannya lebih dahulu. Ini kalau mau Website kita dihargai pengunjung. Pengunjung yang mengerti, akan memaklumi. Pengunjung akan protes, jika mereka pernah membaca di media lokal. Bagaimanapun, UU PERS, UU PENYIARAN, UU ITE, dan aturan positif lainnya harus kita pahami juga sebagai landasan bermain di wilayah MEDIA MASSA. Demikian masukan. Salam.

    ABDULLAH KHUSAIRI, MA

(tidak akan ditampilkan)


Anda dapat mempergunakan HTML tags berikut: <a><br><strong><b><em><i><blockquote><pre><code><ul><ol><li><del>


CAPTCHA Image
Reload Image